Persembahyangan dalam agama Hindu bukan hanya sekadar ritual lahiriah, tetapi merupakan media spiritual untuk menyatukan diri (atman) dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam praktiknya, umat Hindu menggunakan berbagai sarana persembahyangan yang memiliki simbol dan makna mendalam. Sarana-sarana ini bukanlah hiasan semata, tetapi menjadi perwujudan rasa bhakti dan simbol ajaran tattwa (filsafat) Hindu.
Beberapa sarana persembahyangan yang umum digunakan antara lain: bunga, dupa,
tirtha, kewangen, dan bija. Artikel ini mengulas masing-masing sarana tersebut
beserta makna filosofis dan peranannya dalam kehidupan spiritual umat Hindu.
1. Bunga (Puspa)
🌺 Makna:
Bunga melambangkan kesucian, ketulusan hati, dan keharuman pikiran. Dalam Weda,
bunga adalah simbol kebajikan dan cinta kasih yang mekar dari hati yang bersih.
🌼 Fungsi dalam Persembahyangan:
- Sebagai simbol rasa bhakti dan pemujaan yang tulus
- Dipakai dalam canang, banten, dan sebagai upakara utama dalam pemujaan
- Disisipkan pada rambut atau telinga sebagai bentuk sikap hormat
📜 Sloka Pendukung:
"Puspam dadami, bhaktya priyam, devaya namah."
> "Aku persembahkan bunga ini dengan bhakti kepada Tuhan yang aku
sembah."
2. Dupa (Wangi-Wangian)
🕯️ Makna:
Dupa adalah lambang kesucian pikiran, pembersih aura negatif, dan media
penghubung antara alam manusia dan alam spiritual melalui wangi-wangiannya yang
naik ke atas.
🔥 Fungsi dalam Persembahyangan:
- Menyucikan lingkungan dan sarana upakara
- Melambangkan doa yang mengalir dan menjangkau alam dewata
- Membangkitkan suasana tenang, sakral, dan hening
📜 Sloka Pendukung:
"Dhopam aghrapayami"
"Aku persembahkan dupa ini agar tercium oleh para dewata."
3. Tirtha (Air Suci)
💧 Makna:
Tirtha berasal dari kata "tri" (menyebrangkan). Secara spiritual,
tirtha adalah sarana pemurnian lahir dan batin, serta sebagai simbol anugerah
dari Hyang Widhi.
🌊 Fungsi dalam Persembahyangan:
- Diteteskan di kepala sebagai tanda penyucian diri
- Diminum sebagai simbol penerimaan berkah
- Disiramkan di tempat suci atau bangunan sebagai pembersih niskala
📜 Sloka Pendukung:
"Tirtham pavitram kuru me Atma shuddhim ca dehi me."
> "Air suci ini memurnikan diriku, berilah aku kesucian jiwa."
4. Kewangen
🌿 Makna:
Kewangen adalah rangkaian bunga dan daun yang dirangkai secara simbolis.
Mengandung unsur Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara, dan akasa) yang
menjadi dasar penciptaan alam.
🌺 Fungsi dalam Persembahyangan:
- Sebagai simbol tubuh yang disucikan
- Dipegang saat mantra dipanjatkan, terutama saat ngaturang bhakti
- Dipakai dalam upacara pujawali atau nunas tirta
5. Bija (Bijaksara atau Beras Suci)
🌾 Makna:
Bija (biasanya berupa beras putih) melambangkan benih kehidupan, keberkahan,
dan kesuburan. Bija juga merupakan bentuk pemberian energi spiritual oleh Hyang
Widhi kepada umat-Nya.
✨ Fungsi dalam Persembahyangan:
- Ditempelkan di dahi setelah tirtha sebagai tanda penerimaan berkat suci
- Melambangkan penerimaan ajaran dan restu Hyang Widhi
- Simbol keutuhan dan kemurnian jiwa
Jadi Sarana persembahyangan dalam agama Hindu
bukan sekadar pelengkap ritual, melainkan perangkat simbolik dan spiritual yang
membawa umat Hindu dalam kondisi sadar akan Tuhan dan jati diri rohaninya.
Melalui bunga, dupa, tirtha, kewangen, dan bija, umat belajar untuk menyatukan
pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam jalan dharma.
Memahami makna sarana-sarana ini membantu kita untuk tidak hanya melaksanakan
upacara secara fisik, tetapi juga dengan kesadaran penuh (citta suddhi) sebagai
bentuk bhakti yang sejati.

Komentar
Posting Komentar